Beri Waktu untuk Keluarga Kita



(source: oharasbastian.wordpress.com)
Setelah 21 tahun menikah, istri saya ingin agar saya mengajak keluar wanita lain untuk makan malam dan nonton film. Dia berkata, "Aku mencintaimu, tapi aku tahu wanita ini mencintaimu dan akan senang sekali untuk menghabiskan waktu bersamamu."


Wanita lain yang istri saya maksud adalah IBU saya, yang telah menjanda selama 19 tahun, namun karena tuntutan pekerjaan saya dan ketiga anak-anak saya membuat saya hanya dapat mengunjungi beliau sesekali. Malam itu ketika saya menelepon untuk mengundang beliau untuk pergi keluar makan malam dan nonton film, beliau berkata "Apa ada yang salah, kamu baik-baik saja kan?"


Ibu saya adalah tipe wanita yang menganggap bahwa telepon mendadak di malam hari atau undangan tiba-tiba adalah suatu pertanda berita buruk. "Saya pikir akan menyenangkan untuk menghabiskan waktu dengan Ibu" jawab saya. "Hanya kita berdua." Ibu memikirkan hal itu sejenak, dan kemudian berkata, "Saya suka sekali ide itu"

Jumat sepulang saya bekerja, ketika saya akan pergi menjemputnya, saya merasa sedikit gugup. Ketika saya tiba di rumahnya, saya menyadari bahwa Ibu juga tampaknya merasa gugup tentang “kencan kami”. Beliau menunggu di pintu siap dengan mantel yang sudah dikenakan. Ibu telah mengkritingkan rambutnya dan mengenakan gaun yang dia pakai untuk merayakan ulang tahun pernikahannya yang terakhir. Ibu tersenyum berseri-seri seperti malaikat. "Ibu bercerita kepada teman-teman Ibu bahwa Ibu akan pergi keluar dengan anak Ibu, dan mereka terkesan," katanya, saat ia masuk ke mobil. "Mereka tidak sabar untuk mendengar cerita tentang pertemuan kita."

Kami pergi ke restoran yang, meskipun tidak elegan, namun sangat nyaman. Ibu saya mengapit lenganku seolah-olah dia seorang Ibu Negara. Setelah kami duduk, saya membacakan menu. Ibu hanya bisa membaca tulisan yang tercetak besar. Setengah jalan ketika membaca menu saya mengangkat mata dan melihat Ibu duduk di sana menatapku. Senyum nostalgia itu hadir di bibirnya. "Dulu Ibu yang harus membacakan menu ketika kamu masih kecil," katanya. "Maka sekarang waktunya Ibu yang rileks dan membiarkan saya membalas budi," jawab saya. 

Selama makan malam, kami terlibat dalam percakapan yang menyenangkan - tidak ada yang luar biasa tapi hanya update peristiwa-peristiwa baru di kehidupan kami masing-masing. Kami berbicara begitu banyak bahkan sampai kami melewatkan jadwal nonton film. Ketika kami tiba di rumah Ibu, kemudian beliau berkata, "Ibu akan pergi denganmu lagi, tetapi hanya jika kamu membiarkan Ibu mengundangmu." Saya pun menyetujui ide tersebut.


"Bagaimana kencan makan malammu?" tanya istri saya ketika saya sampai di rumah. "Sangat bagus. Jauh lebih baik daripada yang kubayangkan, "jawabku.


Beberapa hari kemudian, Ibu meninggal karena serangan jantung. Itu terjadi begitu tiba-tiba sehingga saya tidak memiliki kesempatan untuk melakukan apa pun untuknya. Beberapa waktu kemudian, saya menerima sebuah amplop dengan salinan tanda terima restoran dari Ibu di restoran yang sama dimana kami kemarin makan malam bersama.



Sebuah catatan yang melekat mengatakan: "Ibu membayar tagihan ini di muka. Ibu tidak yakin bahwa Ibu bisa berada di sana; namun sudah Ibu bayar untuk dua piring - satu untukmu dan yang lainnya untuk istrimu. Kamu tidak akan pernah tahu betapa berharganya malam itu bagiku. Aku mencintaimu, Nak. "
(source: a2smanuver.wordpress.com)

Pada saat itu, saya memahami pentingnya mengatakan dalam suatu waktu: "AKU SAYANG KAMU" dan memberikan orang yang kita cintai waktu yang layak untuk mereka.



Tidak ada hal yang lebih penting dalam kehidupan Anda daripada keluarga Anda.

Beri mereka waktu yang layak mereka terima, karena mungkin itu adalah hal terakhir yang dapat kita berikan.

------------------------------------------------------------

Beri Waktu untuk Keluarga Kita Beri Waktu untuk Keluarga Kita Reviewed by Djumbo on 00:23:00 Rating: 5

No comments:

RH - footer mobile

Powered by Blogger.